Rabu, 15 November 2017

PULANG




Saat itu tengah malam dan semua orang telah membaringkan badannya dengan mata terpejam begitu pulas beralaskan tikar, sedangkan di ranjang yang beroda, terlilit kabel dan alat-alat medis, dalam kamar ukuran 4 x 5 itu seorang wanita telah terkulai lemas tak berdaya, bagaikan dipasung, meraung-raung menahan kesakitan di bagian kepalanya, sebut saja ia mamah syifa. Malam itu ditemani oleh keluarga, dan mawar anak perempuannya melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dan membimbing mamah untuk bedzikir kepada Allah, untuk menenangkan hatinya.
“ Mba sakit kepala, doakan mamah bisa berangkat haji tahun ini ” Ucap mamah saat itu, itulah cita-cita mamah yang sangat dinantikan selama ini, mawar berusaha sekuat mungkin terlihat tegar untuk tersenyum dan memotivasi mamah, padahal ada duka dalam hatinya yang tersembunyi, malam itu begitu mencekam, horor bahkan lebih horor dari pada film dan cerita-cerita misteri.   
“ Mamah semangat sembuh, dan pasti bisa berangkat haji “ jawab mawar.
“ Mamah, maafkan mawar “ kata mawar sambil meneteskan air mata.
“ Maaf untuk apa mba, sama maafkan mamah juga “ balas mamah syifa
“Maaf untuk semuanya, atas segala dosa-dosa yang telah mawar lakukan dan itu menyakitkan hati mamah “ kata-kata mawar seperti mengisyaratkan sesuatu akan terjadi pada dirinya, dan itu tidak diinginkan, mungkin itu hanya pikirannya yang buruk atau akan menjadi kenyataan, air matanya tidak pernah berhenti, sedangkan mamahnya terus  berjuang melawan kesakitan sepanjang malam,
Ketika Mamah mulai sedikit tenang, ia minta diantar ke kamar mandi berniat mensucikan tubuhnya dan melaksakan shalat malam, itulah kebiasaan dia saat masih sehat, kini dia tak mampu melakukannya jangankan untuk berdiri dan jalan ke kamar mandi, ingin duduk saja harus kerja keras dengan melawan rasa sakitnya itu, namun terjatuh dan terjatuh lagi, tetapi tetap saja memaksa dengan keadaanya, pada akhirnya diambilkan air segayung dan mawar menuntunya berwudhu dan shalat malam dengan terbaring, kemudian mawarpun ikut shalat malam atas perintah mamahnya.
Adzan subuh berkumandang menggelegar, sampai fajar tiba mamah masih belum juga memejamkan matanya, dua orang berseragam putih datang dengan jarum suntik yang panjang siap menusuk lengan mamah.
“Permisi ibu saya ambil darahnya untuk dichek di laboraturium “ ujar perawat.
“Saya sakit apa suster, ada apa dengan kepala saya.” tanya mamah pada sang perawat.
“Nanti siang ada dokter yang memeriksa, ibu sabar ya.” kata perawat itu menenangkan.
Pukul 06.00 pagi mamah baru bisa tidur, setelah selesai dibersihkan untuk mengganti baju, dan ayah pergi berangkat kerja, saat sarapan pagi khas rumah sakit tiba, mamah terbangun dari tidurnya dan mawar pun menyuapin, sambil berbincang dan menghiburnya. Baru 6 suap yang dilahapnya, mamah bereaksi aneh membuat bingung semua orang, tangan kakinya kejang, mata melotot dan menjerit kesakitan serta hilang kesadaran, mawar lari tergopoh-gopoh menuju ruang perawat meminta tolong untuk segera diambil tindakan. Dan adiknya mawar yang menjaga saat itu berinisiatif menelpon ayah dan sanak saudara.
Tidak lama dokter dan kerohanian rumah sakit datang untuk memberikan penanganan baik secara medis maupun rohani, “Mba tensinya 180, sangat tinggi dan kita ambil darah untuk di cek, mungkin hilang sadar dan kejangnya itu“ penjelasan dokter
“Lakukan tindakan yang terbaik dok untuk mamah.” mawar memohon pada dokter, untuk segera diambil tindakan medis dan dokter menyarankan pindah ruangan ke ICU, yang menurutnya akan mendapatkan perhatian khusus, karena di ruang ICU akan ada perawat yang menjaga 24 jam, dalam bayangan mawar ruang ICU itu hanya akan memisahkan mereka selamanya, namun dengan berat hati mawar pun akhirnya menandatangani persetujuan pindah ruangan di ICU. Hatinya semakin gelisah, ia berdiri seperti tak menapak, berjalan seperti tak menatap, begitu rapuh, meski tidak sanggup tapi kenyataan ini tetap harus dilalui.
Saat di ruang ICU berbagai macam dokter berdatangan, mulai dari dokter penyakit dalam sampai spesialis penyakit syaraf. Keluarga menaruh harapan yang sangat besar kepada dokter yang menangani mamah. “Bapak segera urus administrasi untuk dilakukan CT Scan karena organ tubuh sebelah kiri responnya sudah berkurang” saran dokter kepada ayah mawar.
Ayahpun segera mengurus persyaratan untuk CT Scan, Selang beberapa jam setelah dilakukan CT Scan kesadaran mamah semakin menurun, berbagai macam alat dipasangkan di tubuhnya, ada layar seperti monitor, dan tampak garis yang bergerak naik turun pada layar monitor itu, terdengar suaranya yang khas, begitu menakutkan, tidak buruk tidak juga merdu, melainkan membuat mawar semakin was-was dengan keadaan mamah. Sayang sekali saat itu hasil Scan tidak bisa diketahui langsung, sepanjang malam mawar sendiri menemani mamah dalam ruangan yang hanya di skat antara pasien lainnya, ruangan itu penuh haru, setiap waktu selalu ada yang pergi meningalkan ruang, bukan karena sembuh melainkan karena kembali untuk selamanya kepada Tuhan.
Keesokan harinya sampai sore tiba belum ada dokter atau suster yang menjelaskan tentang keadaan mamah yang pasti, sedangkan mamah sudah dalam keadaan koma, hati dan jiwanya melayang berkecamuk menjadi satu, menerobos lorong waktu beberapa hari silam, sebelum mamah terbaring tidak berdaya di Rumah Sakit.
“Mah, do’akan mba, maaf belum bisa membahagiakan mamah dan bapa“ curahan hati mawar kepada mamah, waktu itu mawar baru saja berhasil mendapatkan gelar sarjananya, umumnya seorang yang baru lulus kuliah dan menjadi sorang sarjana adalah ingin mencari pekerjaan yang layak di perusahaan yang keren, tapi tidak bagi mawar, ia hanya ingin melanjutkan belajar kejenjang yang lebih tinggi yaitu S2.
“Tidak perlu minta maaf, karena mamah tidak menginginkan apapun, yang penting kamu jadi anak sholehah, setinggi apapun kamu kalau tidak menjadi wanita sholehah untuk apa semua itu” nasihat mamah pada mawar.
“Mamah mengerti apa yang diinginkan mba, dan mamah hanya bisa mendoakan kamu yang terbaik, semoga semua cita-citanya tercapai “ ucap mamah, suasana menjadi haru, terlebih mamah melanjutkan curahan hatinya masa lalu, bahwa mamah juga sama seperti saya menginginkan pendidikan yang tinggi, pekerjaannya yang layak serta ilmunya yang bermanfaat, karena memang mamah adalah wanita yang cerdas dan terampil, mempunyai potensi yang besar, namun cita-citanya tidak tersalurkan karena keadaannya yang memaksa untuk menerima, bahwa ia terlahir tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya dengan penuh sebab perpisahan mereka dan kemampuan ekonominya yang terbatas. Sampai suatu saat mamah ingin diberangkatkan ke Arab menjadi TKI, hidupnya begitu keras sehingga menempa dia menjadi wanita tangguh. Dan saat ini ia tidak menginginkan itu terjadi pada mawar.
Mamah selalu meridhoi setiap langkah mawar sepanjang itu tidak bertentangan dengan agama. Pengumuman beasiswa S2 pun keluar, dan mawar masuk dalam daftar untuk mengikuti seleksi selanjutnya di Ibu Kota.
“Mamah mba lulus dan akan test wawancara” dengan hati yang riang memberi kabar kepada mamahnya.
“Ya… Alhamdulilah Mba..” jawab mamah, wajahnya terlihat pucat dan layu tidak seperti biasanya. tidak nampak keceriaan seperti yang mawar gambarkan. Karena ada yang aneh dalam diri mamah, mawarpun berangkat test wawancara dengan hati yang tidak nyaman.
Kring.. kring.. terdengar suara nada dering panggilan di HP mawar, dilihat ternyata mamahnya menelpon, yang saat itu mawar sedang mempersiapkan test wawancara besok. Kemudian mawar menerima telpon dari mamah dengan hati girang.
“ Halo… Asslamualaikum, mamah lagi apa?” sapa mawar.
“Mamah habis shalat dzuhur, bagaimana disana mba, baik-baik saja ? sudah makan belum ?” suara mamah, seperti merintih menahan rasa sakit.
“Sudah makan mah, mamah kenapa, mamah sakit ?” sahut mawar, firasatnya tidak enak.
“Iya mamah sakit, tadi shalat saja sambil duduk” jawab mamah dengan suara yang merintih tidak bisa menutupi bahwa ia sedang sakit. Akhirnya telpon segera diakhiri oleh mawar, karena ia tak mampu menahan air matanya.
Seharian mawar khawatir dengan keadaan mamah, keesokan harinya mawar memutuskan mencari tiket pulang ke daerah yang terkenal dengan sebutan Kota Udang, dalam pikirannya hanya ada mamah, tidak ada lagi wawancara, S2, kampus UI. Yang paling utama adalah mamah ia rela meninggalkan itu semua untuk mamah. Sekejap ia sadar bahwa dia hanya sedang mengingat hari kemarin yang sudah berlalu, tapi kini yang dihadapi adalah kenyataan, mamah sedang berjuang melawan sakitnya antara hidup dan kematian, entah virus apa yng telah bersarang di kepalanya.
Banyak orang berlalu lalang menjenguk mamah, sahabat dan sanak saudara menemani, ruang itu sangat ramai namun jiwa mawar sunyi, kali ini ia harus berserah pada takdir Tuhan. Segala upaya telah dilakukan dengan maksimal. Aku mempersiapkan diri dipanggil dokter, bukan uang juga persyaratan lainnya yang disiapkan, tapi tentang keikhlasan hati.
“Mba, kami dokter sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi melihat kondisi Ibu sepertinya semakin menurun, kami sudah tidak bisa melakukan tindakan apapun pada Ibu.” Dokter menjelaskan bahwa ini sudah sampai batas kemampuannya yang maksimal.   
Mawar tak ingin beranjak pergi di sisi mamah, setelah dari ruangan dokter, ia hanya ingin bersama mamahnya, sambil mengaji dan berlinang air mata berharap akan ada keajaiban yang terjadi pada mamah, tapi hatinya juga mengatakan sepertinya hanya bersisa dalam hitungan jam ia bersama.
Waktu terus berjalan suara dari layar monitor itu semakin tajam terdengar, lalu mawar membimbing kalimat Allah di telinga mamah, ia percaya bahwa kalimat itu akan mengantarnya kembali pada Tuhan dengan tenang. Arah jarum jam menunjukan dini hari tepat pukul 01.30 WIB tanggal 23 Januari 2016, mamah menghembuskan nafas terakhirnya. Pompa jantung dan alat kejut dimainkan oleh perawat, padahal aku sudah mengikhlaskan dan menyaksikan kepergian mamah. 12 hari di Rumah Sakit bersamamu penuh dengan ketegangan. Cukup membuatku mengerti bahwa betapa pentingnya hadirmu dan arti pengorbanan serta kasih sayang, yang selama ini aku telah khilaf dan mengabaikanmu.
“ Maafkan aku, Aku sangat mencintaimu mamah ” Ucapku diatas batu nisan..
  

Cirebon, 16 September 2017
Karya : Ismatul Maula








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PULANG

Saat itu tengah malam dan semua orang telah membaringkan badannya dengan mata terpejam begitu pulas beralaskan tikar, sedangkan di ranja...