Sabtu, 20 Desember 2014

Luka

selama ini aku tak pernah sesedih ini, entah apa yang kurasa malam ini begitu pilu. memandang wajahnya saja air mata sudah mengambang, dan semakin lama ku menatapnya maka air itu ingin menerjal dari pertahanannya, tak mampu aku membendungnya. perempuan tangguh itu kini semakin layu dan tawakal, karena harus bertahan dari rasa sakit yang amat mendalam, belum lagi mengahdapi ketiga putranya yang aneh-aneh tingkah lakunya, oohh,,, kulihat guratan garis yang semakin berlipat, dan kantung mata yang menggelayut, juga sudah tidak perkasa seperti dahulu, semua pekerjaan pasti dia kerjakan, tapi kini duduk adalah aktivitas terbaiknya untuk meringankan sakit yang dia derita, kesembuhan, keceriaan dan kasih sayangnya selalu ingin aku rasakan,,, meskipun aku tak merasakan apa yang dia rasa, tapi kini aku melihat  jelas betul perubahan yang ada pada perempuan cantik itu,tubuhnya semakin mengurus, dan nafsu makannya pun berkurang, dan kami seringkali kali bertengkar untuk persoalan yang sepele, padahal aku terluka, dan menggoreskan luka dihatinya yang selau membuatnya jengkel... maaf beribu maaf Ibu, Ridha dan Do'amu selalu ku nantikan disetiap waktu, dan itu cinta kasih mu yang tak ternilai oleh apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PULANG

Saat itu tengah malam dan semua orang telah membaringkan badannya dengan mata terpejam begitu pulas beralaskan tikar, sedangkan di ranja...